Setitik Harapan
Penulis : Alumni Pondok Pesanteren
Al-wasilah Lemo
Kisah
ini bukanlah dongeng pengantar tidur. Juga bukan kisah dari negeri antah
berantah. Apatah lagi kisah pengantar kuliah. Kisah ini adalah kisah nyata anak
manusia. Sebuah kisah perjalanan hidup yang tak ada dusta. Ketika anak-anak bertelanjang
dada memainkan alat musik seadanya di setiap perempatan lampu merah. Setiap
langkahnya penuh harapan bahwa kan ada seseorang yang menaruh hati memberi uang
receh yang tak pernah terpikir harganya bagi orang tersebut namun menjadi
penyambung hidup mereka. Tak peduli masa kanak-kanaknya terenggut dengan
mengepalkan tangan mungil mereka mencoba merobohkan sekat dunia yang ada. Atau
kisah ketika barisan ibu-ibu rumah tangga dalam antrian tuk sekedar mendapatkan
minyak tanah bagi keluarganya.
Penulis : Alumni Pondok Pesanteren
Al-wasilah Lemo
Sekelumit
kisah para sarjana yang menganga dengan ijasahnya. Bersama 2,5 juta rekan
sarjananya yang lulus setiap tahunnya berbaris dalam antrian lowongan
pekerjaan. Ah rasanya angka 40 juta pun tak bisa menampung pencari kerja murni
saat ini. Sementara para pemuda lainnya berada dalam barisan 1,7 juta para
pengguna narkoba. Ibarat gunung es, angka ini merupakan sebuah angka yang
fantastis dalam realita.
Di
negeri yang bak surga dunia ini, anak-anaknya tak mampu tuk sekolah. Pendidikan
bagi mereka adalah barang mewah yang setara dengan sofa peristirahatan
tetangganya. Yang tertinggal adalah semangat untuk mendapatkannya sementara
sarana yang adapun ambruk termakan usia. Ah, sekiranya 167 trilliun APBN sejak
tahun 1999 sampai 2004 dapat terselamatkan, tentu mereka bukan hanya dapat
sekolah. Sementara keberpihakan atas ghorimin berdasi yang melarikan dana
negara menjadi sandiwara yang biasa.
Begitu
banyak derita bangsa ini. Seakan samudra tinta takkan cukup tuk menuliskannya.
Sekiranya saja orang-orang yang diberi amanah di pundak mereka memahami
bagaimana para pendahulu mereka memegang amanah. Takkala Abu Bakar As shiddiq
dibalik kelembutannya dengan sigapnya siap memenggal bagi siapa saja yang
mencoba merongrong syariat-Nya. Atau Umar bin Khattab yang mengangkat sendiri
gandum yang akan diberikan kepada rakyatnya. Pemimpin spt Umar bin Abdul Azis
yang menyerahkan semua hartanya kepada negara. Pemimpin yang menyerap
sifat-sifat yang seharusnya dimiliki oleh penghulu semua pemimpin, yaitu Shaft,
(shiddiq, amanah fathonah dan tabligh). Dan kewajiban kita semua untuk
mewujudkan pemimpin seperti itu, tanpa usaha kita –sekecil apapun itu-, semua
harapan tersebut hanyalah utopia belaka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar