Kamis, 05 Maret 2015

Setitik Harapan



Setitik Harapan
Penulis : Alumni Pondok Pesanteren
Al-wasilah Lemo
Kisah ini bukanlah dongeng pengantar tidur. Juga bukan kisah dari negeri antah berantah. Apatah lagi kisah pengantar kuliah. Kisah ini adalah kisah nyata anak manusia. Sebuah kisah perjalanan hidup yang tak ada dusta. Ketika anak-anak bertelanjang dada memainkan alat musik seadanya di setiap perempatan lampu merah. Setiap langkahnya penuh harapan bahwa kan ada seseorang yang menaruh hati memberi uang receh yang tak pernah terpikir harganya bagi orang tersebut namun menjadi penyambung hidup mereka. Tak peduli masa kanak-kanaknya terenggut dengan mengepalkan tangan mungil mereka mencoba merobohkan sekat dunia yang ada. Atau kisah ketika barisan ibu-ibu rumah tangga dalam antrian tuk sekedar mendapatkan minyak tanah bagi keluarganya.
Sekelumit kisah para sarjana yang menganga dengan ijasahnya. Bersama 2,5 juta rekan sarjananya yang lulus setiap tahunnya berbaris dalam antrian lowongan pekerjaan. Ah rasanya angka 40 juta pun tak bisa menampung pencari kerja murni saat ini. Sementara para pemuda lainnya berada dalam barisan 1,7 juta para pengguna narkoba. Ibarat gunung es, angka ini merupakan sebuah angka yang fantastis dalam realita.
Di negeri yang bak surga dunia ini, anak-anaknya tak mampu tuk sekolah. Pendidikan bagi mereka adalah barang mewah yang setara dengan sofa peristirahatan tetangganya. Yang tertinggal adalah semangat untuk mendapatkannya sementara sarana yang adapun ambruk termakan usia. Ah, sekiranya 167 trilliun APBN sejak tahun 1999 sampai 2004 dapat terselamatkan, tentu mereka bukan hanya dapat sekolah. Sementara keberpihakan atas ghorimin berdasi yang melarikan dana negara menjadi sandiwara yang biasa.
Begitu banyak derita bangsa ini. Seakan samudra tinta takkan cukup tuk menuliskannya. Sekiranya saja orang-orang yang diberi amanah di pundak mereka memahami bagaimana para pendahulu mereka memegang amanah. Takkala Abu Bakar As shiddiq dibalik kelembutannya dengan sigapnya siap memenggal bagi siapa saja yang mencoba merongrong syariat-Nya. Atau Umar bin Khattab yang mengangkat sendiri gandum yang akan diberikan kepada rakyatnya. Pemimpin spt Umar bin Abdul Azis yang menyerahkan semua hartanya kepada negara. Pemimpin yang menyerap sifat-sifat yang seharusnya dimiliki oleh penghulu semua pemimpin, yaitu Shaft, (shiddiq, amanah fathonah dan tabligh). Dan kewajiban kita semua untuk mewujudkan pemimpin seperti itu, tanpa usaha kita –sekecil apapun itu-, semua harapan tersebut hanyalah utopia belaka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar