|
Jihad
Tidak Sama Dengan Terorisme
Penulis Alumni Pertama
MAK Al-wailah
|
|
Dalam konteks Indonesia, seorang
Indonesianis pernah menggambarkan agama sebagai the most troubling
development in the new Indonesia. Barangkali, tidak semua orang sepakat
tentang seberapa besar ancaman kelompok ini terhadap masa depan Indonesia.
Tetapi, sulit dibantah bahwa kehadiran suatu kelompok yang kerap menggunakan
kekerasan dalam memajukan cita-cita politiknya ini selalu menjadi batu
sandungan sepanjang sejarah perkembangan Indonesia.Tak terkecuali dalam fase
penataan kembali di era reformasi sekarang ini.
Motif di balik aksi-aksi teror
serta kekerasan pada saat ini bukanlah agama, melainkan politik atau, lebih
khusus lagi, pertarungan untuk merebut kekuasaan. Nurcholish Madjid pernah
mengatakan bahwa gejala yang secara salah kaprah disebut
"fundamentalisme agama" itu lebih tepat dilihat jika
permasalahannya dari sudut konteks sosial-politik masyarakat atau negara yang
bersangkutan. Jadi, gejala itu bukanlah masalah keagamaan murni (meskipun
dengan mengibarkan bendera agama), melainkan masalah sosiologis-politis saja
(Madjid, 1994: 271).
Agama jika dikembalikan pada makna
generiknya berarti 'tunduk dan patuh', 'damai', atau 'selamat'. Namun, tujuan
mulia ini jarang hadir di tengah-tengah realitas sosial-kemasyarakatan.
Alih-alih menjadi way of life, agama seringkali justru menjadi salah satu
hambatan teologis untuk membangun persaudaraan secara universal (ukhuwah
basyariyah), membangun peradaban, dan membebaskan kaum yang tertindas. Aksi
teror dan kekerasan yang belakangan marak acap bergandengan dengan semangat
agama, sehingga terorisme seringkali diidentikkan dengan fundamentalisme
agama.
Tentu saja, anggapan seperti ini
tidak proporsional dan sangat kontraproduktif. Namun, belakangan ini, agama
sering kali digugat, dikritik, dituding, dan dihujat. Ungkapan Marx, agama
sebagai candu masyarakat adalah salah satu contoh gugatan terhadap agama.
Indikasi formalisasi agama itu justru mengarah kepada pembusukan politik dan
budaya. Hal ini tercermin dalam krisis moralitas dan artikulasi politik yang
toleran, inklusif, dan pluralis. Yang tampil ke permukaan adalah artikulasi
keberagamaan yang cenderung formalistik, kursif, dan antidialog. Agama hanya
dijadikan justifikasi atas klaim kebenaran aliran atau partai politik
tertentu. Di sinilah, agama mengalami kegersangan prinsip dan paradigma
karena hanya berkutat pada tataran normatif-formalistik, terhempas dari
konteks masyarakat.
Problem terbesar yang dihadapi
masyarakat agamawan saat ini berupa krisis dalam dirinya sendiri. Agama hadir
sebagai dogma dan dokumentasi ritual belaka. Sehingga, agama tidak mampu
berinteraksi dengan dinamika sosial-masyarakat yang sedang mengalami krisis
multidimensional. Konsekuensinya, agama tak mampu memberikan solusi
alternatif bagi penyelesaian problem kemanusiaan.
Dalam hal agama sebagai lanskap
masyarakat yang menyejarah, seakan menyadarkan kita untuk melakukan upaya
pemahaman kembali terhadap doktrin keagamaan sehingga mampu memperdekat jarak
antara agama dan realitas sosial. Akibatnya, segala pemikiran keagamaan harus
tunduk dan didasarkan pada semangat dan nilai-nilai agama yang universal.
Meski demikian, bahasa dan
simbolisme agama kerapkali menjadi cara untuk menafsirkan realitas. Sejumlah
mitos, hukum, atau asumsi metafisika telah begitu menghunjam dalam keyakinan
umat beragama, sehingga walaupun akar konfliknya ketidakpuasan politik dan
ekonomi, perlawanan terhadap ketidakadilan diekspresikan dalam bahasa agama.
Tanpa memahami bahasa spiritual kefrustrasian dan kemarahan yang menggiring
pada penggunaan kekerasan, kita sesungguhnya tidak menyentuh akar
permasalahan yang sebenarnya.
Bahkan, sebuah pemikiran tidak
akan lepas dan senantiasa terikat dengan konteks sosial-budaya di sekitarnya.
Pemikiran muncul dari rahim sejarahnya (gestalt) dan memiliki epistime
tersendiri. Begitu pula dengan (pemikiran) agama. Dalam analisis Michel
Foucault, ada relasi kuasa dengan pengetahuan. Lebih jauh, Foucault melalui
L'archeologie du Savoir (Archeology of Knowladge) mengatakan bahwa sejarah
selama ini adalah sejarah yang terdistorsi; bukan sejarah bahasa dan makna,
tetapi sejarah relasi kuasa.
Karena itulah, tidak ada pemikiran
agama yang otentik. Dengan nada kritis, Adonis (1978) menulis ''Apakah
otentisitas itu? Bagaimana kita mendefinisikan sesuatu yang otentik?
Bagaimana hubungannya dengan masa lalu, sekarang, dan akan datang, bagaimana
menafsirkannya? Mengapa bangsa Arab harus mengalami kemunduran dan stagnasi
yang begitu pahit? Apakah masalahnya cuma disintegrasi politik atau pengaruh
asing? Bagaimana kita menafsirkan dan memahami hubungan antara bangsa, agama,
dan politik?
Jika demikian adalah tugas kita
semua untuk mengubah keberpihakan agama dari yang elitis, penguasa kepada
kaum tertindas, miskin, dan telantar. Sebab, jika agama dibiarkan menjadi
alat bagi penguasa, fungsi dan tujuan agama untuk membebaskan manusia dari
ketertindasannya akan hilang. Di tangan penguasa, agama akan dijadikan alat
legitimasi untuk menindas dan mendistorsi teks agama menjadi sebuah teks yang
'tunduk' terhadapnya. Dalam posisi inilah, benar ungkapan Nietzsche
(1844-1900 M) tentang kematian Tuhan, Karl Max tentang Tuhan telah mati, Jeal
Paul Sartre (1905-1980) dengan L'esistence de L'homme exclet L'existence de
dio (eksistensi manusia meniadakan eksistensi Tuhan).
Melalui agama kerakyatan inilah,
kita berseru dan berteriak untuk membela rakyat dan menolak segala bentuk
politisasi agama. Agama tidak hanya ditempatkan pada ibadah-ibadah di masjid,
tetapi juga mensyaratkan adanya ibadah sosial. Kemiskinan, pengangguran,
penggusuran, eksploitasi, kekerasan terhadap anak Adam harus ditolak sebagai
upaya membangun kehidupan yang harmonis.
Hal inilah yang menyebabkan
mandulnya kreativitas manusia beragama dalam menentukan pilihan dan pemahaman
terhadap agamanya. Ijtihad dan keberanian berpikir bebas seakan menjadi
ancaman bagi kaum elite agama. Apa pun hasil pemahaman dan ijtihad manusia
adalah absah sebab ia dilahirkan dalam lokus dan tempus tertentu, sehingga
problem yang dihadapi masing-masing individu pun berbeda. Untuk itulah agama
harus dikembalikan kekhitahnya dan tidak disalahgunakan oleh orang-orang yang
tidak bertanggung jawab
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar