REBUTLAH GELAR PEREMPUAN SHOLEHAH
OLEH
ALUMNI PONDOK PESANTEREN AL-WASILAH LEMO
POLEWALI MANDAR, SULAWESI BARAT.
OLEH
ALUMNI PONDOK PESANTEREN AL-WASILAH LEMO
POLEWALI MANDAR, SULAWESI BARAT.
Memang hal ini sangat tidak masuk akal, terlebih di zaman
yang penuh dengan noda-noda hitam. Akibatnya, wanita-wanita menjual
kecantikannya dan berlomba-lomba memperlihatkan aurat dengan sebebas-bebasnya, hanya
demi memuaskan hawa nafsu jahatnya.
Namun hal itu sangat bertentangan dengan ajaran Rasulullah
SAW kepada kita, melalui haditsnya :
“Janganlah engkau peristrikan wanita karena hartanya, sebab
hartanya itu menyebabkan mereka sombong. Dan jangan pula kamu peristrikan
wanita karena kecantikannya, karena boleh jadi kecantikannya itu dapat
menghinakan dan merendahkan martabat mereka sendiri. Namun peristrikan wanita
atas dasar Diennya. Sesungguhnya budak hitam legam kulitnya tetapi Dienya lebih
baik, lebih patut kamu peristrikan“. (HR. Bukhori)
Dan Allah pun tak akan melihat kebagusan wajah dan bentuk
jasadmu. Tapi Dia menilai hati dan amal yang kau lakukan. Hendaknya engkau
yakin bahwa wanita-wanita salafusshaleh adalah panutanmu, yang telah mendapat
bimbingan dari nabi Muhammad SAW.
Contohlah Ummu Khomsa yang tersenyum gembira mendengar
anak-anaknya gugur dalam medan pertempuran. Tentunya engkau heran, mengapa
seorang ibu seperti itu? jawabnya adalah karena ia yakin bahwa jannah
telah menanti anaknya di akhirat, sedangkan engkau tahu, tak seorangpun yang
tidak menginginkan akhir hidup di tempat yang penuh kenikmatan itu.
Katakanlah kepada anak-anakmu kelak, janganlah engkau
bimbang dan ragu wahai anakku, kalau kamu syahid jauh lebih baik daripada sibuk
mengumpulkan harta dan memburu pangkat. Maka kalau kamu ingin termasuk ke dalam
golongan-golongan pejuang ISLAM yang benar-benar memperjuangkan hak Allah dan
Rasul-Nya. Serahkan dirimu, tekatkan ketaqwaan yang kuat dan tanamkan pula
dalam hatimu iman serta keinginan untuk menemuin-Nya secara syahid.
Bayangkanlah bahwa jannah sedang menanti, bersama para bidadari yang
sedang berhias menanti kekasih-kekasihnya, yaitu kamu sendiri.
Seperti Firman Allah :
“Dan didalam Jannah itu ada bidadari-bidadari bermata jeli, laksana
mutiara yang tersimpan baik.” (QS 56 : 22-23)
Ajarkanlah pada anak-anak kita kelak, bahwa hidup dalam
ISLAM tidak berarti mencari kenikmatan semu di dunia ini sehingga mereka
bersenang-senang didalamnya dan lupa akan Akhirat. Padahal Rasulullah
mengajarkan “ Addunnya mazra’atul akhiroh (Dunia adalah ladangnya akhirat).
Jadi dunia bukan tujuan akhir, tapi hanya sekedar jembatan untuk menuju
kehidupan akhirat yang lebih baik dan kekal sehingga mereka mengerti bahwa
mencari keridhoan Allah berarti pengorbanan yang terus menerus.
Seperti Firman-Nya : “Dan diantara manusia ada orang yang
mengorbankan dirinya karena mencari keridhoan Allah dan Allah maha penyantun
kepada hamba-hambanya”. (QS. Al Baqarah : 207)
Akhirnya merekapun tahu bahwa jalan yang mereka pilih itu
tidak menjanjikan harta di dunia ini yang banyak, rumah mewah, kendaraan yang
banyak, atau kasur-kasur yang empuk, pangkat dan perempuan, tapi jalan mereka
semua adalah jalan yang penuh dengan duri-duri cobaan serta seribu dari macam
tantangan. Karena Allah tidak akan memberi Jannah kepada kita dengan
harga yang murah.
Berdo’alah kepada-Nya agar engkau
lahirkan kelak dari rahimmu seorang anak pewaris perjuangan nabi-nabi-Nya yang
senantiasa mereka mendo’akan kita. Didiklah mereka agar taat dan berbuat baik
kepada kita serta tidak menyekutukan Allah, seperti yang diwasiatkan Luqman
kepada anak-anaknya (31:31). Fahamkan mereka bahwa pewaris perjuangan Rasul dan
Nabi bukanlah berarti mereka hanya menjadi pejuang di medan jihad, tapi juga
seorang abid (zuhud) di malam hari. Anak kita kelak adalah amanah dari-Nya oleh
sebab itu Allah akan murka seandainya kita menyia-nyiakannya.
Pembentukan pribadi anak itu sangat
tergantung kepada kita yang mendidiknya. Apakah ia akan menjadi orang yang
beriman atau sebaliknya. Hendaklah engkau perhatikan makanan untuk mereka,
pergaulannya serta pilihkan pendidikan yang mereka ikuti.
Jadilah engkau seperti Siti Maryam
yang dapat mendidik Isa a.s. di tengah-tengah cemoohan dan cacian masyarakat.
Atau Siti Asiyah (istri fir'aun) yang dapat memupuk keimanan Musa a.s. di dalam
istana yang penuh dengan kedurhakaan dan kekufuran. Kemudian Masyitoh yang
mampu memantapkan hati anak-anaknya walaupun harus menghadapi air yang mendidih
demi kebenaran atau mungkin seperti Siti Khadijah r.a, Aisyah r.a, Sayidina Fatimah r.a yang
membesarkan anak-anaknya di tengah-tengah kemiskinan.
Bila engkau telah memahami tugas terhadap
anak-anakmu dalam Islam, maka mudah-mudahan Allah akan memberkahi kita dengan
memberikan anak-anak yang sholeh, yang bersedia mengorbankan nyawanya demi
mematuhi perintah Allah, seharusnyalah engkau faham juga bahwa dunia ini adalah
perhiasan dan sebaik baiknya perhiasan adalah wanita sholehah.
Dan salah satu ciri yang harus
engkau miliki jika ingin menjadi wanita sholehah dan bersedia untuk taat
terhadap suamimu kelak seperti Firman-Nya dalam surat An-Nisaa :34 bahwa
“laki-laki adalah pemimpin bagi
wanita dan istri yang baik adalah mereka yang setia (taat) kepada suami dan
selalu memelihara kehormatannya selama suaminya tidak ada di rumah.”
Hendaklah engkau berbeda dengan
wanita-wanita saat ini yang banyak melalaikan suami dan anak-anaknya, mereka lebih
sibuk dengan karir, arisan, undangan, atau menyia-nyiakan uang dan waktu dengan
hal-hal yang tidak berguna, serta cenderung pamer wajah dan aurat kepada yang
bukan muhrimnya. Carilah ridha suami dengan cara-cara yang telah diyariatkan
Islam, karena Rasulullah telah bersabda :
“Wahai Siti Fatimah, kalau engkau mati dalam keadaan Ali
tidak ridha padamu, niscaya aku ayahandamu tidak akan menyolatkanmu“.
Jadilah engkau perhiasan yang tinggi
nilainya di dalam rumah tangga, sumber penyejuk dan kebahagiaan hati suami,
berhiaslah engkau untuk menyenangkan suami, jagalah hatinya agar engkau tak
menyakiti dia. Walaupun dengan hal-hal yang kecil. Katakan kepadaku jika akan
berangkat mencari nafkah :
“Wahai suamiku carilah rezeki yang halal disisi Allah, janganlah engkau pulang membawa rezeki yang haram untuk kami. Kami rela berlapar dan hidup susah dengan makanan yang halal.”
Dan janganlah engkau cegah, jika aku
hendak meninggalkanmu berhari-hari karena memenuhi panggilan Allah dan
Rasul-Nya. Tabahlah seperti tabahnya Siti Hajar dan Ismail yang ditinggalkan
Ibrahim a.s. ditengah padang pasir yang tandus. Jika aku mengikuti jejak Yasir,
maka ikutilah di belakangku sebagai sumayyah, bila kukatakan kepadamu
“perjuangan itu pahit” maka jawablah olehmu “Jannah itu Manis”
Sudah kiranya yang ingin aku sampaikan padamu, hendaklah engkau pahami dan ikuti seperti yang telah aku tunjukkan kepadamu tapi harus diingat bahwa engkau melakukannya karena Allah bukan karena aku, semoga Allah meridhoi kita dan memberi kemudahan dalam mengikuti petunjuknya, amin.
Sudah kiranya yang ingin aku sampaikan padamu, hendaklah engkau pahami dan ikuti seperti yang telah aku tunjukkan kepadamu tapi harus diingat bahwa engkau melakukannya karena Allah bukan karena aku, semoga Allah meridhoi kita dan memberi kemudahan dalam mengikuti petunjuknya, amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar