MENJELANG KELAHIRAN NABI MUHAMMAD SAW
Tugas
Qusay sebagai penjaga ka'bah adalah memegang kunci ('hijabah'), mengangkat panglima
perang dengan memberikan bendera simbol yang dipegangnya ('liwa'), menerima
tamu ('wifadah') serta menyediakan minum bagi para peziarah ('siqayah').
Ketika
lanjut usia, Qusay menyerahkan mandat terhormat itu pada pada anak tertuanya,
Abdud-Dar. Namun anak keduanya, Abdul Manaf, lebih disegani warga. Anak Abdul
Manaf adalah Muthalib, serta si kembar siam Hasyim dan Abdu Syam yang harus
dipisah dengan pisau. Darah tumpah saat pemisahan mereka, diyakini orang Arab
sebagai pertanda keturunan mereka bakal berseteru.
Anak-anak
Abdul Manaf mencoba merebut hak menjaga Baitullah dari anak-anak Abdud-Dar yang
kurang berwibawa di masyarakat. Pertikaian senjata nyaris terjadi. Kompromi
disepakati. Separuh hak, yakni menerima tamu dan menyediakan minum, diberikan
pada anak-anak Abdul Manaf. Hasyim yang dipercaya memegang amanat tersebut.
Anak
Abdu Syam, Umayah, mencoba merebut mandat itu. Hakim memutuskan bahwa hak
tersebut tetap pada Hasyim. Umayah, sesuai perjanjian, dipaksa meninggalkan
Makkah. Keturunan Umayah -seperti Abu Sofyan maupun Muawiyah- kelak memang
bermusuhan dengan keturunan Hasyim.
Hasyim
lalu menikahi Salma binti Amr dari Bani Khazraj -perempuan sangat terhormat di
Yatsrib atau Madinah. Mereka berputra Syaibah (yang berarti uban) yang di masa
tuanya dikenal sebagai Abdul Muthalib -kakek Muhammad. Inilah ikatan kuat
Muhammad dengan Madinah, kota yang dipilihnya sebagai tempat hijrah saat
dimusuhi warga Mekah. Syaibah tinggal di Madinah sampai Muthalib -yang
menggantikan Hasyim karena wafat-menjemputnya untuk dibawa ke Mekah. Warga
Mekah sempat menyangka Syaibah sebagai budak Muthalib, maka ia dipanggil dengan
sebutan Abdul Muthalib.
Abdul
Muthalib mewarisi kehormatan menjaga Baitullah dan memimpin masyarakatnya.
Namanya semakin menjulang setelah ia dan anaknya, Harits, berhasil menggali dan
menemukan kembali sumur Zamzam yang telah lama hilang. Namun ia juga sempat
berbuat fatal: berjanji akan mengorbankan (menyembelih) seorang anaknya bila ia
dikaruniai 10 anak. Begitu mempunyai 10 anak, maka ia hendak melaksanakan
janjinya. Nama sepuluh anaknya dia undi ('kidah') di depan arca Hubal. Abdullah
-ayah Muhammad-yang terpilih.
Masyarakat
menentang rencana Abdul Muthalib. Mereka menyarankannya agar menghubungi
perempuan ahli nujum. Ahli nujum tersebut mengatakan bahwa pengorbanan itu
boleh diganti dengan unta asalkan nama unta dan Abdullah diundi. Mula-mula
sepuluh unta yang dipertaruhkan. Namun tetap Abdullah yang terpilih oleh
undian. Jumlah unta terus ditambah sepuluh demi sepuluh. Baru setelah seratus
unta, untalah yang keluar dalam undian, meskipun itu diulang tiga kali.
Abdullah selamat.
Peristiwa
besar yang terjadi di masa Abdul Muthalib adalah rencana penghancuran Ka'bah.
Seorang panglima perang Kerajaan Habsyi (kini Ethiopia) yang beragama Nasrani,
Abrahah, mengangkat diri sebagai Gubernur Yaman setelah ia menghancurkan
Kerajaan Yahudi di wilayah itu. Ia terganggu dengan reputasi Mekah yang menjadi
tempat ziarah orang-orang Arab. Ia membangun Ka'bah baru dan megah di Yaman,
serta akan menghancurkan Ka'bah di Mekah. Abrahah mengerahkan pasukan gajahnya
untuk menyerbu Mekah.
Mendekati
Mekah, Abrahah menugasi pembantunya -Hunata-untuk menemui Abdul Muthalib.
Hunata dan Abdul Muthalib menemui Abrahah yang berjanji tak akan mengganggu
warga bila mereka dibiarkan menghancurkan Baitullah. Abdul Muthalib pasrah.
Menjelang penghancuran Ka'bah terjadilah petaka tersebut. Qur'an menyebut
peristiwa yang menewaskan Abrahah dan pasukannya dalam Surat Al-Fil. "Dan
Dia mengirimkan kepada mereka "Toiron Ababil", yang melempari mereka
dengan batu-batu cadas yang terbakar, maka Dia jadikan mereka bagai daun
dimakan ulat".
Pendapat
umum menyebut "Toiron Ababil" sebagai "Burung Ababil" atau
"Burung yang berbondong-bondong". Buku "Sejarah Hidup
Muhammad" yang ditulis Muhammad Husain Haekal mengemukakannya sebagai
wabah kuman cacar (mungkin maksudnya wabah Sampar atau Anthrax -penyakit serupa
yang menewaskan sepertiga warga Eropa dan Timur Tengah di abad 14). Namun ada
pula analisa yang menyebut pada tahun-tahun itu memang terjadi hujan meteor
-hujan batu panas yang berjatuhan atau 'terbang' dari langit. Wallahua'lam.
Yang pasti masa tersebut dikenal sebagai Tahun Gajah yang juga merupakan tahun
kelahiran Muhammad.
Pada
masa itu, Abdullah putra Abdul Muthalib telah menikahi Aminah. Ia kemudian
pergi berbisnis ke Syria. Dalam perjalanan pulang, Abdullah jatuh sakit dan
meninggal di Madinah. Muhammad lahir setelah ayahnya meninggal. Hari
kelahirannya dipertentangkan orang. Namun, pendapat Ibn Ishaq dan kawan-kawan
yang paling banyak diyakini masyarakat: yakni bahwa Muhammad dilahirkan pada 12
Rabiul Awal. Orientalis Caussin de Perceval dalam 'Essai sur L'Histoire des
Arabes' yang dikutip Haekal menyebut masa kelahiran Muhammad adalah Agustus 570
Masehi. Ia dilahirkan di rumah kakeknya -tempat yang kini tak jauh dari
Masjidil Haram.
Bayi
itu dibawa Abdul Muthalib ke depan Ka'bah dan diberi nama Muhammad yang berarti
"terpuji". Suatu nama yang tak lazim pada masa itu. Konon, Abdul
Muthalib sempat hendak memberi nama bayi itu Qustam -serupa nama anaknya yang
telah meninggal. Namun Aminah -berdasarkan ilham-mengusulkan nama Muhammad itu.